Sabtu, 14 April 2012

HIV/AIDS dan Cara Pencegahannya

I.          Memahami Bahaya HIV/AIDS
Penyakit HIV/AIDS adalah momok penyakit yang mempunyai resiko kematian yang tinggi. HIV (Human Immunedeficiency Virus) merupakan jenis virus yang menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya sistem kekebalan tubuh seseorang. Penyakit ini menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga penderita tidak mempunyai kekebalan terhadap berbagai penyakit.


II.         HIV/AIDS di Indonesia
Penyakit HIV/AIDS telah menyerang ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia diperkirakan epidemik HIV/AIDS mengalami peningkatan. Diperkirakan terdapat sekitar 12-19 juta orang yang terkena HIV dan 95.000-130.000 orang yang tertular HIV.
III.       Asal Usul Penyakit HIV/AIDS
Penelitian dilakukan untuk menemukan penyakit ini. Akhirnya teka-teki ini dapat terungkap berkat penelitian Dr. Wc Montagnier, seorang ahli penyakit kanker dari Perancis tahun 1983. Lalu tahun 1984 Dr. Robert Galo dari National Institute of Health Amerika Serikat, menemukan jenis virus yang sama pada penderita yang mengalami kekebalan menurun. Untuk menghindari pertentangan dua nama tersebut, maka WHO memberikan nama baru yaitu  HIV (Human Immunedeficiency Virus).
IV.       Tahapan-tahapan HIV Menjadi AIDS
Perkembangan HIV pada tubuh penderita, setelah 5-10 tahun terinfeksi HIV. Tahapan-tahapan HIV menjadi AIDS memiliki gejala-gejala sebagai berikut :
1.     Tahap Awal Terinfeksi HIV, gejala mirip Influenza (demam, sendi terasa nyeri, rasa lemah, lesu, batuk, nyeri tenggorokan, dan pembesaran kelenjar). Gejala ini akan hilang sendirinya dalam beberapa hari.
2.      Tahap Tanpa Gejala, meskipun tanpa gejala, tapi di tes darah ditemukan antibodi HIV (HIV +). Masa ini berlangsung 5-7 tahun.
3.      Tahap ARC (AIDS Related Complex), muncul gejala-gejala awal AIDS. ARC adalah istilah yang didapati 2 atau lebih gejala yang berlangsung. Gejala-gejalanya yaitu :
-          Selama 3 bulan atau lebih yaitu demam disertai keringat dingin di malam 2 hari.
-          Berat badan turun drastis lebih dari 10%.
-          Badan lesu.
-          Pembesaran kelenjar secara lebih luas.
-          Diare/Mencret terus-menerus dalam waktu lama tanpa sebab yang jelas.
-          Batuk dan gejala sesak napas lebih dari 1 bulan.
-          Kulit gatal bercak-bercak kebiruan.
-          Sakit tenggorokan.
-          Pendarahan yang tidak jelas sebabnya.
4.      Tahap AIDS, muncul infeksi lain yang berbahaya; seperti TBC, infeksi paru-paru, infeksi jamur di rongga mulut, tumor kulit/kanker kulit (kaposis’s sarcoma, bercak-bercak merah kebiruan pada kulit) dan pembengkakan getah bening.
5.      Tahap Gangguan Otak, pada tahap ini dapat mengakibatkan kematian sel otak dan gangguan mental berupa damensia (gangguan daya ingat), penurunan kesadaran, gangguan psikotik, depresi, dan gangguan syaraf.
V.         Cara Penularan HIV/AIDS
a.   HIV/AIDS Di Tubuh Manusia
      HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh manusia melalui aliran darah penderita. HIV/AIDS sangat mudah mati di luar manusia (dengan air panas, sabun, dan bahan-bahan pencuci yang lain), karena itu HIV/AIDS tidak dapat menular melalui udara.
      HIV/AIDS dalam tubuh manusia bersarang di salah satu sel darah putih, yaitu bernama Limfosit yang berada di cairan tubuh. HIV/AIDS awalnya melakukan penempelan dengan CD-4 reseptor yang ada di permukaan Limfosit, lalu virus memasukkan DNA virusnya kedalam inti selnya Limfosit. Virus ini juga dapat ditemukan sel manusia Maesopag dan sel glia jaringan otak.
b.   Masa Inkubasi HIV/AIDS
      Masa Inkubasi adalah masa dimana setelah terjadinya penularan sampai dengan timbulnya gejala penyakit. Ketika mulai masa Inkubasi, jumlah sel Limfosit berkurang sampai setengahnya. Dalam kondisi ini, kekebalan masih berfungsi dan dapat bertahan 9-10 tahun.
      Tapi, setelah 9-10 tahun, kekebalan tubuh menjadi tidak berfungsi lagi dan penderita menjadi penderita AIDS. Masa Inkubasi akan lebih singkat pada bayi yang baru lahir karena ibunya telah tertular HIV dan gejala-gejala AIDS pada bayi akan muncul setelah 1 tahun terjangkit HIV.
      Gejala-gejalanya berupa demam, keringat dingin di malam hari, badan lesu, nafsu makan menurun, badan kurus, mudah terserang flu, mencret, bercak-bercak putih, dan timbul penyakit paru-paru.
c.    Cara Penularan HIV/AIDS
1.      Hubungan Kelamin
      Ini disebabkan karena penularan virus HIV terjadi melalui cairan sperma dan cairan vagina. WHO memperkirakan 70% pengidap AIDS tertular melalui hubungan kelamin.
2.      Transfusi Darah
      Ketika darah yang terinfeksi HIV masuk ke darah orang yang sehat, maka terjadilah penularan virus HIV.
3.      Alat-alat Medis
      Alat-alat medis seperti jarum suntik, baik untuk pengobatan, imunisasi, menindik tato, akupuntur, atau yang digunakan untuk pecandu obat bius sangat rawan sebagai media penularan virus HIV.
4.      Ibu Hamil
      Apabila ibu hamil tertular virus HIV, maka Bayi dalam kandungan berpotensi tertular virus HIV juga. Dan juga akan menularkan virus HIV melalui air susu ibu.
5.      Cairan Tubuh
      Cairan tubuh seperti cairan sperma, cairan vagina, darah, dan ASI menjadi media penularan virus HIV.
6.      Donor Organ (Transplantasi)
      Transplantasi adalah pemindahan jaringan organ tubuh, seperti ginjal, hati, dan lain-lain. Ketika organ tubuh dari orang terkena virus HIV diberikan kepada orang yang bersangkutan, maka orang yang menerimanya pun terkena virus HIV.
d.   Kelompok Beresiko Tinggi Terkena HIV/AIDS
a)   Homoseksual
b)   Heteroseksual
c)   Biseksual
d)   Pecandu Narkoba
VI.       Cara Mengatasi HIV/AIDS
a.   Pencegahan HIV/AIDS
Berikut usaha pencegahan HIV/AIDS.
1.      Selalu menggunakan jarum suntik yang steril dan baru ketika akan digunakan.
2.      Terapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin) karena hal ini memungkinkan penularan virus HIV.
3.      Bila ibu hamil positif HIV, sebaiknya diberitahu tentang resiko dan kemungkinan yang terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui dengan ASI bisa dipertimbangkan.
b.   Obat-obat HIV/AIDS
     Sampai sekarang belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penderita HIV/AIDS. Obat yang ada sekarang hanya sebagai obat penambah daya tahan tubuh atau memperpanjang umur penderita. Berikut ini obat-obat yang dikenal di dunia kedokteran yang dapat memperpanjang ilmu sampai 2  tahun.
1.   AZT (Azidothymidine)
     Obat ini berfungsi penahan perkembangan virus, namun mengandung efek samping, yaitu kerusakan tulang sumsum dan anemia berat.
2.   DDI (Diseoxycitidine)
     Cara kerja obat ini tidak jauh berbeda dengan AZT, tapi telah diujicobakan tidak menimbulkan efek samping.
3.   DDC (Zalcitabine)
     Seperti AZT dan DDI, obat ini juga dapat menahan perkembangan virus.

Lalu para ahli Jepang menemukan obat-obatan HIV/AIDS sebagai berikut.
1.   M.HDA (Meiji Humin Deritivize Al-Bumin)
     Obat ini gabungan Carbadimine Humin dan Succiny Lated Human Al-Bumin yang terkandung dalam darah. Obat ini kabarnya dapat menyingkirkan sel-sel limfosit yang digerogoti oleh HIV dengan tidak membahayakan Limfosit normal.
2.   Tachyplesin
     Adalah cairan kimia yang diambil dari sejenis kepiting Tachyplens tridentotus yang dinamakan T-220. Ramuan ini telah diujicobakan pada tikus dengan hasil yang memuaskan, namun masih mengandung efek samping seperti AZT.


            Para ahli Inggris juga menemukan ramuan yang digunakan untuk mengobati penderita HIV/AIDS, yaitu So.221 dan GLQ.223, kedua obat ini masih menimbulkan efek samping seperti AZT, namun tidak terlalu berbahaya. Masih ada juga obat-obatan tradisional dari cina, yaitu Milingwang yang diujicobakan pada 158 pasien AIDS yang hasilnya paling tidak bisa memperpanjang hidup.